Sumber: http://www.klikdokter.com/article/detail/1064
Setiap
orang pasti pernah mengalami kedutan pada wajah. Memang terlihat
sepele, dan dianggap tidak berbahaya. Namun, kedutan pada wajah dapat
berpotensi sebagai hemifacial spasm.
Berbeda dengan
kedutan biasa, hemifacial spasm terjadi hanya pada salah satu bagian
wajah. Mulai dari dahi, lama kelamaan menjalar sampai ke bibir. Pada
akhirnya setengah muka akan kaku.
dr. Astri
Budikayanti, SpS, spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
menerangkan, peyebab hemifacial spasm ada dua, yaitu karena tekanan dan
bukan tekanan. Hemifacial spasm karena tekanan, terjadi ketika saraf
otot "konslet" karena tumor ataupun kelainan saraf. Adapun penyebab
hemifacial spasm tanpa tekanan adalah penyakit stroke, TBC, ataupun
mulitiskiokolis.
"Kalau dalam istilah kedokterannya
adalah lesi tertekan dan tidak. hemifacial spasm ini tidak berasa
sakit," ujarnya di sela-sela Gathering Komunitas Hemifacial Spasm di
Twin Plaza Hotel, Jakarta, Sabtu (15/8).
Penderita
hemifacial spasm kebanyakan berusia di atas 40 tahun, dan kebanyakan
yang terkena adalah wanita. Hemifacial spasm tidak dapat dicegah,
pasalnya ini bukanlah penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit.
Yang dapat dilakukan hanyalah menyembuhkan.
Jika
penyebabnya karena tekanan, untuk menyembuhkannya harus menyembuhkan
penyakit yang ada. "Misalnya si pasien terkena stroke, maka yang
disembuhkan stroke-nya dulu," ungkap dia. Adapun jika penyebab tanpa
tekanan, maka harus dilakukan adalah tindakan operasi. Setelah
penyebab-penyebab disembuhkan, hemifacial spasm akan sembuh, tetapi
masih ada kemungkinan untuk kambuh. Untuk mencegah hal tersebut, pasien
harus terus dipantau.
"Jaga juga kondisi psikologis pasien, jika pasien cemas, maka akan kembali lagi," ujar dr Astri.
Selain itu, lanjutnya, hemifacial spasm juga dapat diobati dengan memberikan suntikan pada otot saraf yang mengalami kelainan. Namun, cara tersebut hanya dapat diberikan pada kasus-kasus tertentu.
Selain itu, lanjutnya, hemifacial spasm juga dapat diobati dengan memberikan suntikan pada otot saraf yang mengalami kelainan. Namun, cara tersebut hanya dapat diberikan pada kasus-kasus tertentu.
"Penyuntikan
hanya diberikan pada hemifacial spasm yang tidak diketahui penyebabnya,
ataupun pada penderita tahap awal," terang dia. Penyuntikan dilakukan
beberapa kali tergantung tingkat keparahannya.
Sama
dengan teknik lainnya, setelah dilakukan penyuntikan, pasien harus
terus dipantau. "Jaga juga kondisi psikologisnya karena pada kasus
seperti ini keadaan psikologis sangat berpengaruh," tukasnya.
No comments:
Post a Comment